»

AH,OMONG KOSONG !

ADVERTHUSIAST.
Oh, saya juga suka pesawat

Home Archive RSS Ask
Padahal ada waktu untuk merayu Allah di saat fajar akan menjelang, di saat manusia-manusia yang tidak bersemangat pada bergelimpangan pulas menikmati malam. Saat itu ucapan cinta kepada Sang Maha Pencinta harus diungkap. Karena cinta kita akan menarik cinta-Nya, rayuan kita akan membangkitkan cinta-Nya.
Dikutip dari Eramuslim, kala mencari tau keistimewaan dzulhijjah.

Jadilah seseorang yang: “Aku akan tetap menunggu. Tidak peduli kau datang atau tidak.” untuk seseorang yang: “Aku akan pasti datang. Tidak peduli kau tetap di sini atau pun tidak.”

Meski hingga detik ini kita tidak tahu siapa seseorang tersebut. Meski kita terlampau malu dengan harapan. Teruslah memperbaiki diri, besok lusa kita akan paham hakikat nasehat ini.

oleh : Tere Liye

(Source: nayhelfira, via kurniawangunadi)

Papa, siang tadi

“Kak, apapun yang kamu kejar sekarang, santai aja ya ngejarnya, jangan terlalu ngoyo,” papaku, seperti biasa selalu mengingatkan anaknya yang terlalu ambisius ini agar tidak lupa menginjak rem dan mengoper gigi ke beberapa nomor yang lebih kecil. Mengajak si anak perempuannya untuk menikmati perjalanan hidupnya di kecepatan yang tidak terlalu membahayakan saat (amit-amit) menabrak sesuatu.

Aku baru bertukar cerita dengannya, setelah sekian lama. Kalau kuamati, sekarang-sekarang ini, papa betul-betul memintaku untuk belajar lebih dalam tentang kebijaksanaan hidup. Aku bilang begini bukan tanpa alasan, setiap kali aku selesai menceritakan kisah ku, yang menyenangkan atau yang memuakkan, semua selalu ditutup dengan doa agar kebijaksanaanku bertambah.

Hey wajar saja. Umurku toh sudah tidak diawali dengan angka 1 di depannya. Angka 2 kini telah bercokol dengan gagahnya di depan bilangan umurku. Dan kurasa, papa tau kalau aku sedang berada di masa penentuan. Di ujung masa manja-manja leyeh-leyeh sebagai anak, di pintu masa-masa seorang individu yang berkuasa dan bertanggung jawab penuh atas kehidupannya.

Papa cuma tidak ingin aku salah memilih tempat berhenti. Papa cuma ingin aku berhenti di sebuah daerah  yang benar benar membuat aku nyaman berlama-lama disana. Kawasan yang bisa ku jelajahi keunikannya, kunikmati keindahannya, kusyukuri keberadaan aku di dalamnya.

Ajakan untuk menjadi lebih bijaksa yang selalu papa suntikkan padaku, kurasa, adalah penentu utama yang harus kumiliki kala menganalisis, memprediksi, dan memilih satu keputusan tertentu. Papa tau anaknya terlalu banyak berpikir sebelum menentukan pilihan. Papa tau anaknya intuitif, tapi kadang tidak bisa mengacuhkan pendapat orang lain yang pada akhirnya hanya akan membuatnya menyesal di kemudian hari. Papa ingin anaknya lebih dalam kala menganalisis. Lebih akurat kala memprediksi.

“Jangan siksa diri kamu sama pikiran malu kalau kalah. Orang-orang gak akan ngomongin kamu kalau kamu gagal, paling cuma sekedar komentar, terus lupa.”

Papa tidak tau, anaknya tidak suka dikalahkan. Apalagi dicap kalah. Papa tidak tau anaknya akan mengoper gigi ke tingkat yang lebih tinggi dan menginjak pedal gas ke kedalaman maksimal. Aku ingin cepat-cepat sampai menjemput yang kuincar saat ini. Apabila tabrakan, aku tau aku akan koma, tapi aku berjuang untuk tidak sampai bertemu titik lalu mati.

 

Ribuan detik kebersamaan bisa menjadi serentet kisah yang asyik diingat di masa mendatang.
"Saya tau tidur kamu disini gak pernah lelap,""Hari pertama kamu sampai di Bali abis pulang kamu gak seceria biasanya. Hari kedua, matamu bengkak,"
"Niiis..Nis, kamu ini, tinggal tunjuk siapa yang kamu mau disini kok malah nolak."
"Bu Bos, kenapa ada pemecatan sepihak, tanpa SP 1 dan seterusnya?"
"Insentif itu cuma mimpi buat sales disini, Nis."
"Kamu yang betah bantuin saya disini, ya?"

Ribuan detik kebersamaan bisa menjadi serentet kisah yang asyik diingat di masa mendatang.

"Saya tau tidur kamu disini gak pernah lelap,"
"Hari pertama kamu sampai di Bali abis pulang kamu gak seceria biasanya. Hari kedua, matamu bengkak,"

"Niiis..Nis, kamu ini, tinggal tunjuk siapa yang kamu mau disini kok malah nolak."

"Bu Bos, kenapa ada pemecatan sepihak, tanpa SP 1 dan seterusnya?"

"Insentif itu cuma mimpi buat sales disini, Nis."

"Kamu yang betah bantuin saya disini, ya?"

Buku Biografi Istri-istri Nabi karya Dr. Musthafa Murad

Buku Biografi Istri-istri Nabi karya Dr. Musthafa Murad

Sore itu, Telepon di Kosan

"Kamu yakin mau nyoba daftar disana? Aku liatnya itu bukan kamu banget," kata wanita muda itu di ujung telepon sana.

"Ya," sahutku. "Aku yakin. Dari situ aku bisa punya dua hal penting yang aku butuhkan saat usiaku menginjak angka 25-30. Kefleksibilitasan waktu dan kepastian finansial. You know, untuk ngebangun mimpi aku,"

"Tapi itu bukan kamu banget,"

"People changes, honey,"

Di ujung sana , teman wanitaku ini terdiam. “Semoga memang ada jalannya,” doanya. Doa itu kubutuhkan sekali.

"Ayolah, bantu aku dengan doamu. Jangan doakan agar aku kuat disini, aku tidak mau dikuatkan, doakan aku dikeluarkan." suaraku melengking dengan sejumput emosi di telepon.

"Aamiin,"

Aku butuh sokongan doa. Tidak hanya doa dari diriku sendiri, tapi dari ibuku,ayahku, dan orang-orang yang peduli padaku. Aku takut doaku sendirian tidak bisa menembus langit dan sampai di telingaNya. Atau, kalaupun sampai, butuh waktu yang lama. Aku butuh tenaga ekstra untuk doaku agar ia cepat sampai kepadaNya.

"Seberapa parah sih kamu, sampai harus keluar?"

"Semua ini harus aku tinggalin. Aku harus buka lembaran baru. Yang benar-benar baru. Bukan bab baru. Tapi buku baru, buku lama itu harus kubuang jauh-jauh agar aku tidak tertarik lagi untuk membacanya, tidak peduli seberapa mengagumkan kisahnya,"

Diam lagi untuk beberapa saat.

"Kenapa tanggal 15 Maret aku belokin mobilku kesana? Padahal tempat itu sudah kusumpahi tidak akan kuterima tawarannya. Aku harusnya melanjutkan apa yang harus kuselesaikan di GITC," lanjutku, menyesali keputusanku di masa lampau.

"Gak ada yang sia-sia. Kamu kesana untuk bertemu sama mantan pacarmu itu,"

"Untuk apa, toh ujung-ujungnya kami putus, lebih baik gak usah dipertemukan kalau akhirnya malah bikin aku merasa dia bukan perwujudan nikmat Tuhan, tapi perwujudan laknat Tuhan padaku," lanjutku. Kalimat ini semacam jadi kalimat sakti yang diucapkan semua orang saat keluh kesahku tentang kenapa-aku-masuk-sini keluar. Ibuku, bahkan teman baikku omongannya sama.

"Pada akhirnya, tidak ada yang menjemput, dan tidak ada yang dijemput. Pada akhirnya, dia jadi past tense." ujarku.

"Aku tau kamu pasti belajar setelah kejadian ini."

"Hahahaha," tawa sarkasku muncul."As usual, i take the lesson learned, and bounce back,".

Beberapa bulan terakhir ini, aku belajar banyak hal tentang hidup sebagai manusia dewasa. Ya, banyak sekali kebijaksanaan yang aku temukan lewat segala problematika yang kuhadapi di tempat ini. Terhitung sejak Maret tanggal 15, berarti aku sudah hampir 6 bulan.

Rasanya, ingin sekali mengenakan mukena, melemahkan diri lagi padaNya, lalu berbisik, Tuhan, untuk semua kebijaksanaan yang kuasah di tempat ini, untuk semua nikmat yang kuperoleh disini, aku mohon ridhoMu untuk melanjutkan proses pembelajaran kehidupan di tempat lain, Tuhan. Engkau yang memasukkan aku ke sebaik-baiknya tempat, dan aku, hanya hamba yang selalu ingin terburu-buru dikabulkan doanya.

 

Gianyar, 27 

“AAAAK, MBAK!”, teriak kepanikan itu dikeluarkan salesku saat dia berusaha untuk tidak menabrak anjing hitam yang melintas di depan motor kami. Saat itu tanganku sedang sibuk memegang handphone dan tidak berpegangan pada besi belakang jok motor, kontan saja tubuhku langsung bergeser maju hingga menabrak punggung salesku. Untung kami sama-sama wanita, jika kau paham maksudku.

“Ada anjing, Mbak. Ih untung aku bawa motornya pelan loh,padahal biasanya ngebut aku di jembatan ini,” kata salesku sambil menunjuk ke arah anjing yang dimaksud. “Untung loh jalanan juga sepi, kalo enggak, abis kita mbak.”

Aku sedang dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi kostumer di daerah Gianyar. Entahlah, mungkin karena terbawa perasaan kesal karena tidak mendapatkan hasil yang diharapkan dari kostumer itu, aku tidak terlalu bernafsu untuk bercakap-cakap di perjalanan dan lebih memilih untuk konsentrasi pada handphone.

Oh, atau karena aku juga terbawa perasaan karena terkenang memori di tanggal yang sama sebulan lalu, entahlah.

“Ooh,” komentarku singkat menanggapi omongannya. Menyebalkan sekali aku ya? Sudah disupiri, diselamatkan dari peristiwa hampir menabrak anjing, membiarkan salesku menyetir dalam keheningan tanpa obrolan, dan cuma menanggapi omongannya dengan tiga huruf itu.

“Sebenernya dari tadi aku mau ngobrol ini sama Mbak, tapi gak jadi terus,”.

Baiklah, pikirku, cukup mencurahkan perhatianku pada handphone butut ini, ada makhluk hidup yang tidak tahan melakukan perjalanan dinas dalam ketiadaan obrolan. “Apa ?” tanyaku memancing.

“Semalem aku mimpi Mbak, tempatnya di jalan ini sampe titik itu aja tapi keliatannya, ujungnya ketutup sama awan putih,” cerocosnya.

“Terus ?”

“ Ada nenek-nenek loh di pinggir jalannya, ngeri aku mbak. Di mimpi itu aku sama temenku tapi, bukan sama Mbak. Ini loh sekarang malah ada kejadian di deket jalan ini, yang di jembatan tadi.”

“Kamu inget gak, hari Senin kita lewat sini kan kita juga liat nenek-nenek di jembatan tadi,lagi sembahyang.Terus kamu kangen ama nenek kamu waktu itu. Mungkin gara-gara itu makanya kebawa ampe mimpi kali,” hey, aku selalu berusaha menjadi orang yang logis, yang selalu mencari dasar penyebab dari segala sesuatu.

 “Sering aku Mbak mimpi-mimpi gitu dan bener kejadiannya. Kayak sekarang ini .”

“Feeling kamu kuat ya. Enak dong. Eh, enak gak? Hahaha”

“Kadang ngeri aku Mbak. Takut aku, aku udah tiga kali mimpiin bapakku meninggal. Tiap mimpi begitu bapakku langsung sakit. Untung cuma sakit aja. Ga abis pikir aku kalau bapakku meninggal.” Salesku yang satu ini memang tipe orang yang terbuka. Ia menceritakan semua hal pada hampir semua orang. Aku yang baru sekantor dengannya dua bulan ini, sudah kenal dengan pacarnya,dengan kisah hidupnya, ibu bapaknya,adiknya, hubungannya dengan teman kampusnya, perasaannya terhadap (calon) selingkuhannya, apapun. Seterbuka itu.

Percakapan kami tentang mimpi-mimpinya yang seakan menjadi petanda akan suatu hal berlanjut hingga aku memberanikan diri untuk bertanya padanya, “kalau mimpi ular, artinya apa sih?”. Aku bertanya ini setelah aku tau dia kompeten di bidang-bidang klenik, oh entahlah, hal-hal gaib semacam mimpi dan makhluk lain.

“Jodoh.”

“Ah masa, kok aku malah berantem gara-gara mimpi itu? Berarti yang dimaksud jodohnya itu bukan aku ya?”

Salesku memalingkan mukanya ke arah belakang. “Ada yang ngartiin mimpi itu dengan arti yang satu lagi mbak,”

“Apa ?”

“ Bakalan ketemu hal yang menyakitkan,”

Aku ingin tertawa mendengar jawaban salesku yang satu ini. “Kok gitu banget sih artinya. Gak konsisten. Yang satu bikin seneng, yang satu lagi bikin males dengernya. Kenapa gak berenti di jodoh aja? Kenapa harus ada arti kedua?”

“Tergantung orangnya mau liat ke arah mana Mbak,” katanya.Ya, dan tidak semua orang berani untuk mengartikan mimpi itu sebagai petanda yang baik. Ada orang yang condong untuk mengartikan mimpi itu dengan arti yang buruk, dan itu benar-benar membawa hal buruk dalam…..hidupku, karena aku tidak tau hidup si orang yang bermimpi ular itu baik atau buruk.

“Gitu ya?”

“Kalau mimpi dipotongin kuku juga artinya jodoh Mbak. Aku pernah mimpi dipotongin kuku sama pacar aku. Ceritanya waktu itu aku duduk di bawah jendela di sebelah selatan rumahku. Katanya nanti jodohku datang dari arah selatan,”

Sambil menanggapi obrolan salesku, otakku berpikir tentang hal lain. Tentang betapa menyebalkannya orang-orang yang begitu menjadikan mimpi sebagai pedoman mereka. Betapa kesalnya aku saat mereka tidak menyadari bahwa mimpi itu adalah produk dari alam bawah sadar mereka yang sebelumnya merekam kejadian-kejadian saat mereka dalam kondisi sadar. Dan betapa kesalnya aku saat ada orang yang mengaitkan kejadian di mimpi itu dengan suatu kondisi tertentu yang kebenarannya belum tentu sesuai dengan perkiraan mereka. Hey, terkadang seseorang mengaitkan suatu peristiwa sesuai dengan keinginannya, dengan sudut pandangnya.

Seandainya saat itu, si orang yang bermimpi ular tidak dalam kondisi emosi, dan kondisi lain berjalan dalam suasanya yang menyenangkan, tentunya ia akan mengartikan mimpi ular itu dari sisi yang baik. Tentunya ia akan percaya kalau ia mimpi ular, ia akan bertemu dengan jodohnya.

Sayang dia memilih arti yang lain.

 

 

Pemilihan pasangan adalah batu pertama fondasi bangunan rumah tangga, ia harus sangat kukuh, karena kalau tidak, bangunan tersebut akan roboh kendati hanya dengan sedikit goncangan. Apalagi jika beban yang ditampungnya semakin berat dengan kelahiran anak-anak. Fondasi kukuh tersebut bukan kecantikan atau ketampanan, karena keduanya bersifat relatif, sekaligus cepat pudar; bukan juga harta, karena harta mudah didapat sekaligus mudah lenyap; bukan pula status sosial atau kebangsawanan, karena yang ini pun sementara, bahkan dapat lenyap seketika. Fondasi yang kukuh adalah nilai-nilai spiritual yang dianut.

M.Quraish Shihab

(via kurniawangunadi)

BBM, sore itu

“Mbak, aku jadi potong rambut, ikut yuk ke salon.” Sebuah emotikon yang sedang tertawa lebar berada di ujung kalimat tersebut. Sebuah pesan singkat via bbm yang kudapat dari teman seperjuanganku di kantor. Usianya lebih muda dariku, kami terpaut 3 tahun. Dia sebaya adikku.

Pesan singkat itu tak langsung ku balas. Aku sedang malas dihubungi oleh orang. Penyakit yang sering kumat kala perasaan kesepian meradang.

Ah, pikirku, aku jahat sekali apabila mendiamkan pesan ini terlalu lama. Pesan singkat ini pasti ada sangkut pautnya dengan obrolan Si Bapak perihal jenuh atau tidak aku di Bali yang dibahas saat aku di kantor tadi.

Selang 1 jam, kubalas pesan itu, “wah, udah potong?”.

“Bulet mukaku mbak,”

Gadis Bali yang satu ini tidak lagi memegang prinsip ‘cewek Bali rambutnya harus hitam panjang’ rupanya. Rambutnya yang dulu tergerai hingga dada, kini hanya berjuntai melebihi kuping sedikit. Aku tersenyum melihat foto rambut barunya itu. Seperti melihat aku pada akhir tahun 2013, saat aku memutuskan memangkas semua rambutku setelah pisah dengan orang terkasihku.

“Kamu jadi kayak polwan,” balasku singkat.

“Besok pacarku nelepon pake Skype mbak,” lagi, sebuah emotikon sedih muncul di ujung kalimatnya. Keputusannya untuk memangkas rambutnya memang kurang lebih demi menuruti ajakan sang pacar yang kini sedang ditempa untuk menjadi polisi di Kupang sana. Ya, mereka sedang menjalani sebuah hubungan jarak jauh.

Baguslah, pikirku, dengan Skype kan dia bisa menunjukkan kalau dia menuruti permintaan pacarnya itu, manatau pacarnya terkesan. Ini hanyalah sedikit usahanya demi mempertahankan hubungan yang sudah terjalin 5 tahun itu.

“Hahaha, surprise buat pacar kamu.”

Temanku yang satu ini ingin menjadi kembaranku. Mulai dari gaya busana, jabatan di kantor, hingga kisah percintaan. Kalau dia mau, tiru saja aku di semua bidang. Tak masalah, aku senang ada yang mau menjadikan aku panutan. Tapi ku harap, ia tidak menjadikan aku panutan untuk satu hal, masalah percintaan. Jangan sampai dia bernasib sama denganku untuk yang satu itu.       

 

Line, beberapa hari yang lalu

Handphone ku bergetar, setelah kulirik, ternyata ada pesan masuk dari teman dekat di Jakarta. Seorang yang sempat menjadi atasanku di kampus dulu.

“Hey ada apa?” ketekan tombol kirim. Tak selang berapa lama, balasannya sudah ku terima. Tipikal orang seperti dia, bukan tabiatnya mengirimkan balasan pesan dalam waktu sekilat itu kecuali ada hal yang benar-benar ingin dibahas.

“Inget cewe yang gue bilang waktu di Blok S dulu?” katanya di pesan itu.

“Inget”

“Dia nikah sabtu ini. Gue bingung.” Entahlah, semenjak beberapa waktu lalu, setiap kali ada orang yang membahas kata itu denganku, seulas senyum sarkas muncul di wajahku.

“Becanda lo” Tanggapanku singkat, hanya untuk memastikan dia tidak sedang mengolok-olokku.

“Serius gue,”

“Poto. No pic hoax.” Tidak perlu menunggu lama, sebuah gambar surat undangan pernikahan diterima di layar handphone ku. Ku perhatikan betul-betul, ternyata itu memang surat undangan asli,bukan sesuatu yang baru diedit di photoshop. “Dia suka Hello Kitty ya?” balasku singkat.

“Banget. Focus on the main problem,please,”

“What is?”

“She asked me to come to the wedding.Should I?”

Mataku melebar, ku ketik dua huruf di handphone ku dengan nafsu, “NO”. Well, aku punya regulasi sendiri tentang kehidupan purnapacaran. Dan tampaknya saat itu aku sedang menginfusi pikiran temanku untuk memiliki sudut pandang yang sama akan hal ini. “Seriusan, no exes at the wedding, no!”

“Gitu ya Pit?”

“Lo mau dateng gak tapinya?”

“Enggak. Gak kuat juga gue nya,”. Saat jemariku sedang meliuk mengetik balasan, pesan berikutnya dari dia muncul di layar, “tapi dia bilang ke gue kalo dia masih ragu sebenernya.”

The fuck is wrong with this girl my friend has a crush on?

“How come exactly?”

“Gaktau, pokonya dia sempet curhat gitu.”

“Leave her, she is such a dramaqueen. Eh, kecuali dia nikah paksa sih macem siti nurbaya, lo mau kejar dia lagi juga gapapa,”

“Nope, she is indeed a dramaqueen.”

“How you feel?”

“Mungkin lagu Sheila Yang Terlewatkan pas ngegambarin keadaan gue saat ini Pit,”

Sesaat aku bingung mau membalas apa untuk kalimat itu. Karena mendadak aku terbawa untuk menyelami perasaanku sendiri.

“Udahlah, dulu lo enggak bilang ‘iya’ pas dapet tawaran itu. Jangan nyesel.”

Bali Hari Ini

“Jenuh, Nis?”

“Tebak dong, Pak,” senyumku mengembang, menantang orang di depanku untuk menjawab pertanyaan yang ku ajukan.

“Ya mana saya tau, memangnya saya peramal.” Giginya yang tidak tertata terlalu rapi tampak saat dia membalas senyumku.

Aku yang ditanya hanya bisa tertawa. Aku tau kalau si Bapak sudah tau jawaban dari pertanyaan itu.Jawaban yang tepat. Dia hanya butuh , oh apa itu istilahnya? triangulasi data? Penegasan dari sumber informasi kalau info yang diterima benar adanya.

“Aku ambil hikmahnya aja, Pak. Dengan begini kan aku jadi tau gimana rasanya Soekarno dulu pas jaman-jaman pembuangan.” Kalimat ini meluncur bukan mau sok-sok an pandai, sekalian menghapal materi sejarah untuk tes masuk kerja di departemen di Senayan itu maksudku.

Si Bapak menjawab enteng, ”kalau kamu dibuang harusnya kamu enak dong. Dimana-mana yang namanya anak buangan pasti hidupnya bebas, liar. Liat sekelilingmu.”

“Harusnya ya,Pak.” Senyumku sarkas. Mengingat bertolak belakang sekali pernyataan si Bapak dengan kondisiku. Aku bukannya bebas disini. Aku diikat. Diikat kontrak. Diikat waktu. Diikat kenyataan ini. Diikat kenyataan itu.

“Soekarno itu dibuang, dia menikmati sekali loh.”

“Hahahahaha, aku gimana Pak?”

“Ya tergantung kamu. Coba liat Soekarno. Dia dibuang kesana-sini tidak pernah merasa masalah, lha wong di setiap tempat pembuangan dia nyari istri kok.”

“Hahahahaha, duh, itu kan Soekarno, Pak. ” Aku menyadari ada satu kata Si Bapak yang sensitive untuk ku dengar. “Aku ganti deh, Pak. Bukan pembuangan kayak Soekarno. Aku diasingkan. Kayak Pak Hatta misalnya di Digul.”

“Diasingkan gimana tho?”

“Diasingkan, dijauhi dari orang dekat, kebiasaan favorit, tempat favorit, tidak punya siapa-siapa untuk diajak apa-apa kemana-mana.”

“Kamu ini udah sering dibilangin loh Nisa, tinggal bilang, banyak yang mau nemenin kamu.”

Aku tertawa. Bukan ada atau tidak adanya orang untuk menemani saya disini. Mau atau tidak saya dengan mereka, itu yang menjadi masalah. Aku tidak mau.

“Daripada kamu kemana-mana sendirian disini.” Kata si Bapak lagi.

“Iya Pak, betul. Aku bisa gila disini.”

‘Tapi itu caraku menghargai hubungan yang kami bangun. Kami memulainya dengan mmenyenangkan. Aku mencintainya. Kalau ia ingin pergi, tak apa. Hanya saja, aku ingin ini berakhir dengan cara yang layak.’
Dear Lord, when I get to heaven, please let me bring my man. When he comes tell me that you let him in,please tell me that you can. Oh that grace, oh that body, oh that face, makes me wanna party, he is my sun, he makes me shine like diamond. 

Lana Del Ray-Young and Beautiful

Dear Lord, when I get to heaven, please let me bring my man. When he comes tell me that you let him in,please tell me that you can. Oh that grace, oh that body, oh that face, makes me wanna party, he is my sun, he makes me shine like diamond.

Lana Del Ray-Young and Beautiful

  • Angga : Itu siapa sih yang lo pajang-pajang?
  • Pipit : Temen gandengan kalo nyebrang jalan.
  • Angga : Emang lo gak bisa nyebrang sendirian?
  • Pipit : Kalo menyebrangi jalan kehidupan, gak bisa Ga.